|

Ini hanya awal perjalanan dalam sebuah kota besar.. yang bernama JAKARTA.. banyak penduduknya, banyak polusinya, banyak uangnya..
Jakarta, di sini aku berdiri dan melihat betapa manusia diliputi rasa ketakutannya.. lihat saja di jalanan itu, mereka yang berjalan kaki takut tertabrak. mereka yang naik sepeda takut kebanjiran sehingga tak bisa pulang. mereka yang naik sepeda motor takut terkena asap polusi truk di depan. mereka yang naik kendaraan umum takut bertemu pencopet. mreka yang naik mobil manual takut kelelahan kaki kanan-kiri karena macet berkepanjangan. mereka yang naik mobil matic semakin deg2an melihat jarum penunjuk bensin mengarah ke huruf E. dan mereka yang naik mobil mewah takut mobilnya ter-srempet kopaja. ah inilah Jakartaku..
mungkin hanya pejabat yang tidak takut. tidak takut tertabrak, karena toh mobilnya punya pengaman yang tiada dua. tidak takut kebanjiran, karena dengan cara apapun pasti bisa menuju pulang ke rumah. tidak takut asap polusi karena kaca mobil mereka kedap udara. tidak takut pencpet, ah mungkin mereka tidak tahu bagaimana pencopet bekerja, karena bukankah mereka hendak ke pasar saja dikawal. tidak takut kelelahan, jelas, karena toh mereka memiliki supir. tidak takut kehabisan bensin, ah pun takut, yang beli bensin bukanlah mereka. tidak takut kesrempet kopaja, ya, karena mreka selalu bersama polisi yang mengawal dan 'membersihkan' jalan. tidak takut kemacetan. ah lampu merah saja mereka terobos..
ya, inilah yang aku lihat..
tapi, mereka yang berada di bawah ketakutan itulah justru mereka yang berani..
mereka yang berjuang untuk diri dan kehidupannya.
mereka yang mengalahkan segala imaji untuk menjadi yang bukan mereka.
mereka yang berjuang untuk sebuah perubahan, perubahan pada dirinya yang mereka mulai dari harta. ya, jakarta yang menyilaukan.













