twenty something









saat kebingungan dimulai, mempertanyakan esensi hidup yang tak lagi sama..
ketika tertawa tak selepas mereka yang masih belasan..
atau ketika tangis juga tak begitu membantu, karena yang kau pikirkan hanya bagaimana menjalani hidup ini. saat ini. sementara hidup yang lalu pun tak begitu memukau, apalagi sempurna.

siapa saya?
kembali kau pertanyakan, padahal lima tahun yang lalu pertanyaan ini juga sudah muncul, dan sudah terjawab. atau kau ingin menjadi dirimu yang lain?

mau jadi apa saya?
ya, saya bingung, karena antara pendidikan dan kehidupan tak ada lagi yang sejalan jika yang menjadi esensi justru hanya materi.
ketika cinta tak hanya menyenangkan semata, lebih banyak membebaninya mungkin.
ketika tuntutan tak lagi bisa terpenuhi.
dan akhirnya berujung pada norma.

ketika langkah tak lagi seringan saat masih belasan..
ketika hentakan jantung tak secepat saat masih belasan..
semua jelas berbeda sekarang, kehidupan yang tak lagi sama.
tujuan yang meningkat, tanggung jawab yang diminta lebih
tak ada lagi kata - kata degradasi untuk urusan kedewasaan
mereka yang ber-regresi hanya dianggap tak mampu menjalani hidup..

ketika beban semakin bertambah, sementara sang guru pun sudah lelah mengajari..
ketika tak lagi ada bayang yang mendampingi, dan senyuman juga tampak dipaksakan..

dan inilah kami, yang memperjuangkan arti hidup kami..
memerangi krisis dalam diri kami, demi suatu tujuan yang lebih baik..

But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
(Jamie Cullum, twenty something, 2004)
0 Responses