Yogyakarta



26 Oktober 2010. 08:33 pm.

[Berita : Merapi Meletus]

hari ini ada berita Merapi Meletus. mendengarnya saja hati ini mencelos. entah apa rasanya, tidak tega menonton beritanya, tapi sungguh penasaran..

sebelumnya, berita Tsunami di Mentawai sudah cukup menghebohkan.. sama, perasaannya tidak karuan..

Mentawai,
saya tidak pernah ke sana sebelumnya.. tapi saya pernah baca kalau para surfer dunia sangat menyukai mentawai. pantainya memiliki ombak yang memikat hati. bahkan ia nomor 2 setelah Hawaii.. jauh di atas Bali. aku bisa bayangkan, airnya yg biru atau tosca, dan ombaknya yang menantang. tapi aku tak berani membayangkan saat ia kemudian menerjang manusia di sekitarnya, yang selama ini mungkin turut menjaganya.

sama,
akupun tak kuat membayangkan kala Merapi meletus. membuat warganya panik. para nenek kakek terlihat beraut wajah bingung.. jelas, mereka takut, tapi juga mungkin mereka memikirkan hewan ternak mereka yang terpaksa akan mereka tinggal.

ah,
yogyakarta..
tidak hanya satu kali aku ke sana.. aku masih ingat dalam ingatan, teduhnya Kaliurang.. sejuknya udaranya.. bersahabatnya penduduknya..
dari Ketep aku juga sempat melihat senyum indah Merapi, menyapa penggemarnya..

tetap saja, ia gunung berapi.. untuk kesehatannya, ia harus mengeluarkan panasnya..
sayangnya, ternyata korbannya justru para penjaganya selama ini..
doa. ya hanya itu yg bisa saya lakukan..

yogyakarta,
cantik dirinya dilengkapi satu gunung Merapi yang sungguh indah.. dan satu pantai selatan yang tak kalah tenar..
semoga kau baik2 saja, dan cantikmu tak lantas hilang, serta tundukmu masih terjaga tanpa lengah karena kecantikan milikmu sendiri..



seharusnya tidak seperti ini, bukan?


helaan nafas yang terasa lebih lama dari biasanya.. sembari memejamkan mata, menikmati sisa yang ada..

dia, si telinga sebelah akhirnya berkata sebuah makna cinta..
senyum inipun terasa dipaksakan..
jari ini pun gemetar..

dan ya, punggung itupun mulai menjauh..
tawa hina pun tak lagi ada..
hingga akhirnya aku tersadar, bahwa dirinya bukan lagi milik telinga sebelah..
mungkin ia telah menemukan anting-antingnya

dan cerita sofa rusak pun tinggal cerita..
satu yang pasti, hati ini masih berada yang pertama di sisi telinga sebelah, terimakasih.

mereka bercinta di rumah sakit jiwa


[hanya sepenggal cerita fiksi, saat ini dan nanti..]

Sinta perempuan. dan Rama itu laki-laki. mereka kenal, tapi tak saling menyapa. hanya tahu, tanpa berpadu.

[Sinta]
aku, perempuan beranjak dewasa yang pJustify Fullernah belajar tentang hidup ini. bersekolah hanya salah satu cara yang aku lakukan untuk mempelajari tentang hidup ini. guru hanya segelintir manusia yg membantu aku untuk memahami hidup ini. selebihnya.. aku lebih suka untuk berkelana dalam gulita, sampai terang meraja.
dan sekarang, aku merasa kehidupan ini tak lagi sama. tepatnya ketika tiga tahun lalu, tiba-tiba mereka semua hilang, entah kemana. dan aku? aku yang sedang belajar, terpaksa berhenti sejenak, mencari mereka. menyadari bahwa mereka tak lagi ada. kecewa? jelas.. tapi rasa sedih ini yang membuatku akhirnya berhenti belajar tentang hidup. cukup. terang tak kunjung datang.

[Rama]
aku, laki-laki yang tak pernah suka untuk terlahir di dunia ini. satu-satunya yang aku suka itu cuma musik. tapi ternyata itu tak seindah bayanganku lagi. belasan tahun aku berjuang untuk membawa musik sebagai satu-satunya hidupku. hingga satu hal..
aku merasa otakku waras, ternyata tidak. petikan gitar itu dengan suksesnya menghantui pikiranku. hingga aku terperangkap. di sini..

[Sinta]
putih. ini kamarku.. tak ada satupun yang kukenal di sini. lalu, untuk apa dulu aku pernah belajar?

[Rama]
kata orang, saat bermain gitar, aku terlihat lebih waras. sedikit.

[Sinta]
saat aku ingin waras, satu hal yang aku perlu. mendengarkan Rama bermain gitar. itu satu-satunya hal yang membuatku merasa memiliki teman.

[Rama]
saat aku lelah bermain gitar, aku memilih mendengarkan Sinta bercerita mengenai kisah tentang biologi.

[Rama & Sinta]
di sinilah kami terjebak. dan akhirnya sibuk dengan diri masing-masing. mereka pikir kami gila. tapi, apa mereka bisa memainkan gitar sebaik Rama. meskipun Rama tidak pernah tahu perkalian. dan apa mereka bisa memahami perkembangan tumbuhan sebaik Sinta, meskipun Sinta tidak pernah tahu bahwa kopi itu pahit.


herstory #1

April, 2010

Akhir2 ini di tempat saya berpijak, kita sebut saja NEGARA ada kejadian yang mungkin bisa menjadi sejarah. semoga saja ini tidak hilang dimakan lapuknya usia dan lapisan bumi.

Taukah kamu, apakah itu?
ada seorang pria paruh baya, sebut saja namanya pak Susno. akhir2 ini ia lebih terkenal daripada bintang2 sinetron yang menghiasi layar kaca. yang aku tidak tahu, pak Susno ini baca skrip atau tidak. sepertinya tidak. sepertinya.

Kenapa dengan dia?
Ia berusaha sekuat yang ia mampu, membongkar kasus2 ilegal, ah apapun itu namanya, yang kemudian media bilang sebagai : makelar kasus. menjualbelikan kasus. kasus apa saja. saat ini pajak korbannya. mungkin besok bisa berbeda.

saat ini, saya tidak tahu lagi harus berkata apa. pak Susno memang berani. sangat berani. bahkan saat ini saya sedang berpikir suatu saat ia akan melawan lembaga yang membesarkan namanya,
kepolisian. jangan kau ketawakan ya kalau di NEGARA ada tagline berbunyi : " Susno vs Polri".

mungkin bulan depan cerita ini hanya tinggal sejarah, sejarah yang tidak akan masuk buku sejarah sekolah, karena dianggap tidak membuat perubahan apapun. bagiku, semua cerita ini terlalu berharga untuk tidak kubagi dengan kamu. begitu juga dengan cerita pak Susno ini. satu yang kuharapkan, kebenaranlah yang akan menang. kamu juga kan? main2lah ke NEGARA, ada banyak cerita di sini.

are you happy?


Inspirasi ini datang setelah gw ntn film dng judul
Everybody's fine.. di setiap akhir pertemuan ayah dengan anaknya, ia selalu bertanya "are you happy?" yg mungkin pertanyaan ini sudah muncul sejak bertahun2 lalu.. dan ah sayangnya anaknya tidak membalas pertanyaan yg sama untuk ayahnya..

ARE YOU HAPPY

bukan sekedar bertanya bahagia, bukan juga mencari kesedihan..
sadarkah, seberapa bahagia kamu?
dengan hari ini.. atau bahkan dengan hidup ini..
atau
jangan-jangan bahagia yang kau ungkap hanya saat kau mendapat apa yg sesuai keinginan..

saya bahagia,
dengan hidup saya saat ini.. tidur di atas kasur, makan dengan kedua tangan yang utuh, dan menggunakan sepatu di kedua kaki saya..

saya bahagia,
punya orangtua penuh kasih, juga kakak yang menyenangkan, kakak ipar yang keibuan, keponakan yg unik, dan satu rezha.

saya bahagia,
masih merasakan hujan. melihat layar laptop, mendengar ketukan pintu, membedakan manis dan asam, mencium bau pizza..

saya bahagia,
karena saya masih bisa menangis. masih bisa terluka. masih bisa marah. masih bisa kecewa.

saya bahagia,
karena saya ada di dunia ini..
tak ada yang lebih membahagiakan bagi saya, selain mengenal dan menjadi bagian dari dunia yg indah ini..

ya,
sayapun adalah saya. bahagia yang saya punya pun milik saya. jadi jika ada yg menanyakan pada saya : "are you happy now? saya akan jawab : "yes i am. what about you?"

twenty something









saat kebingungan dimulai, mempertanyakan esensi hidup yang tak lagi sama..
ketika tertawa tak selepas mereka yang masih belasan..
atau ketika tangis juga tak begitu membantu, karena yang kau pikirkan hanya bagaimana menjalani hidup ini. saat ini. sementara hidup yang lalu pun tak begitu memukau, apalagi sempurna.

siapa saya?
kembali kau pertanyakan, padahal lima tahun yang lalu pertanyaan ini juga sudah muncul, dan sudah terjawab. atau kau ingin menjadi dirimu yang lain?

mau jadi apa saya?
ya, saya bingung, karena antara pendidikan dan kehidupan tak ada lagi yang sejalan jika yang menjadi esensi justru hanya materi.
ketika cinta tak hanya menyenangkan semata, lebih banyak membebaninya mungkin.
ketika tuntutan tak lagi bisa terpenuhi.
dan akhirnya berujung pada norma.

ketika langkah tak lagi seringan saat masih belasan..
ketika hentakan jantung tak secepat saat masih belasan..
semua jelas berbeda sekarang, kehidupan yang tak lagi sama.
tujuan yang meningkat, tanggung jawab yang diminta lebih
tak ada lagi kata - kata degradasi untuk urusan kedewasaan
mereka yang ber-regresi hanya dianggap tak mampu menjalani hidup..

ketika beban semakin bertambah, sementara sang guru pun sudah lelah mengajari..
ketika tak lagi ada bayang yang mendampingi, dan senyuman juga tampak dipaksakan..

dan inilah kami, yang memperjuangkan arti hidup kami..
memerangi krisis dalam diri kami, demi suatu tujuan yang lebih baik..

But I'm still having fun and I guess that's the key
I'm a twentysomething and I'll keep being me
(Jamie Cullum, twenty something, 2004)